poroskaltim.com, BALIKPAPAN - Reses Anggota DPRD Kota Balikpapan yang juga Sekretaris Komisi II, Taufik Qul Rahman, di lingkungan RT 33, Kelurahan Baru Ilir, Kecamatan Balikpapan Barat, Sabtu (2/5/2026), menghadirkan nuansa yang berbeda dari agenda serupa pada umumnya. Jika biasanya reses identik dengan pembahasan infrastruktur dan fasilitas umum, kali ini forum justru diwarnai kegiatan keagamaan yang melibatkan para ibu-ibu majelis taklim dari wilayah Balikpapan Barat.

Sejak awal kegiatan, suasana terasa lebih khidmat. Lantunan doa dan kegiatan religi menjadi pembuka sebelum dialog berlangsung. Dalam forum tersebut, para peserta tidak hanya hadir sebagai pendengar, tetapi juga aktif menyampaikan aspirasi, khususnya terkait kebutuhan pembinaan dan dukungan terhadap kegiatan keagamaan di lingkungan mereka.
Beragam usulan mengemuka, mulai dari kebutuhan sarana pendukung kegiatan majelis, program pembinaan rutin, hingga perhatian pemerintah terhadap peran kelompok keagamaan dalam memperkuat nilai sosial di tengah masyarakat.
Taufik Qul Rahman menjelaskan bahwa pendekatan ini sengaja dilakukan untuk memperluas ruang aspirasi masyarakat. Menurutnya, selama ini reses cenderung didominasi oleh persoalan fisik seperti jalan, drainase, dan infrastruktur lainnya.
“Selama ini setiap reses yang digelar hampir selalu membahas fasilitas umum. Sementara untuk wilayah Baru Ilir sendiri, sebagian besar pembangunan fisik sudah terlaksana, hanya tinggal beberapa yang masih menunggu penyelesaian,” ujarnya saat diwawancarai.
Ia menilai, kondisi tersebut membuka ruang untuk mulai menggeser fokus pembahasan ke aspek non-fisik, termasuk penguatan kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. Taufik menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut pembinaan mental dan spiritual masyarakat.
“Melalui forum seperti ini, kita ingin mendengar langsung kebutuhan masyarakat yang selama ini mungkin belum tersampaikan, khususnya di bidang keagamaan,” tambahnya.
Reses dengan pendekatan berbeda ini dinilai menjadi langkah penting dalam memperkaya perspektif pembangunan di tingkat lokal. Tidak hanya membangun fisik wilayah, tetapi juga memperkuat nilai-nilai sosial dan keagamaan yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat.
Kegiatan tersebut pun menjadi cerminan bahwa aspirasi warga tidak selalu berbentuk proyek pembangunan, melainkan juga kebutuhan akan ruang pembinaan yang mampu menjaga harmoni dan kualitas kehidupan sosial di tengah dinamika perkotaan. (adv/rud)
Tulis Komentar