Keterangan Gambar : Sekretaris Komisi IV DPRD Balikpapan, Muhammad Hamid.
Poroskaltim.com, BALIKPAPAN - Keluhan masyarakat terkait kualitas air bersih kembali mencuat di Kota Balikpapan. DPRD menilai persoalan air keruh hingga distribusi yang belum merata harus segera ditangani serius, bukan sekadar menjadi catatan rutin setiap tahun.
Sorotan tersebut disampaikan Sekretaris Komisi IV DPRD Balikpapan, Muhammad Hamid, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panitia Khusus LKPj bersama Pemerintah Kota Balikpapan, di ruang rapat gabungan, gedung parlemen Senin (20/4/2026).
Dalam forum itu, Hamid menyinggung kondisi air yang kerap berubah warna menjadi keruh bahkan kekuningan di sejumlah wilayah. Ia menilai, kondisi tersebut perlu ditindaklanjuti secara langsung di lapangan oleh pihak Perumda Tirta Manuntung Balikpapan.
“Kami minta jangan hanya menerima laporan. Harus turun langsung melihat kondisi di masyarakat, apakah benar air yang diterima warga seperti yang dikeluhkan,” tegasnya.
Selain kualitas, ia juga menyoroti persoalan klasik yang terus berulang, yakni keterbatasan pasokan air bersih. Menurutnya, alasan kekurangan air baku tidak boleh terus menjadi jawaban tanpa solusi konkret.
“Setiap reses, keluhan masyarakat sama. Ingin pemasangan air, tapi jawabannya selalu ketersediaan air belum cukup. Ini tidak bisa dibiarkan berlarut,” ujar politisi PKB itu.
Midun sapaan karibnya menegaskan, kebutuhan air bersih merupakan layanan dasar yang harus dipenuhi pemerintah. Ia meminta agar persoalan ini tidak hanya berhenti sebagai evaluasi, melainkan diikuti langkah nyata di lapangan.
Dengan kondisi tersebut, DPRD meminta adanya langkah percepatan yang terukur agar persoalan kualitas dan ketersediaan air tidak terus menjadi keluhan tahunan masyarakat.
“Air bersih ini kebutuhan dasar. Harus ada solusi nyata, bukan sekadar penjelasan,” tandasnya.
Menanggapi hal tersebut, Penjabat Sekretaris Daerah Balikpapan, Agus Budi Prasetyo, menjelaskan bahwa perubahan warna air salah satunya disebabkan oleh gangguan teknis saat perbaikan jaringan pipa.
“Ketika ada perbaikan, sering terjadi endapan yang masuk ke saluran sehingga air terlihat keruh. Namun ini tetap menjadi perhatian untuk diperbaiki,” jelasnya.
Ia juga mengakui bahwa persoalan utama terletak pada keterbatasan air baku. Saat ini, Balikpapan disebut mengalami defisit pasokan air yang cukup besar, sehingga berdampak pada kemampuan distribusi ke pelanggan baru.
“Kalau air bakunya tidak mencukupi, penambahan sambungan justru bisa mengganggu distribusi ke pelanggan yang sudah ada,” katanya.
Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah tengah mendorong penambahan sumber air baku, termasuk melalui pengembangan waduk, sumur dalam, hingga kerja sama pemanfaatan air dari Sungai Mahakam. (adv/man)
Tulis Komentar